Dosa & Keselamatan

1 LATAR BELAKANG
Di dunia modern, ketika orang belajar banyak pengetahuan, mendalami realita dan berjuang dengan biaya research sangat besar, justru masih ada yang terlewat. Alkitab dengan tegas dan jelas membukakan realita yang exclusive yaitu, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Rm 3:23) Statement Paulus tersebut seringkali bukan dimengerti sebagai realita yang seharusnya diterima tapi justru ditolak oleh banyak orang. Padahal pernyataan itu bukan tuduhan yang dibangun dengan fanatisme. Ia membangun argumentasi dengan sangat teliti mulai dari konsep general (umum) mengenai dosa dalam Rm 1 hingga Rm 3:20 agar manusia akhirnya sadar.

Dalam Roma 1 Paulus menegaskan 2 statement terpenting mengenai realita hidup yaitu bahwa dunia sedang dikuasai oleh kondisi fasik dan lalim. Fasik ialah sikap sengaja melawan Allah bukan karena tak tahu akan keberadaanNya. Ketika diajar tentang Dia, dalam hati manusia selalu timbul sensus divinitas yaitu perasaan atau kesadaran bahwa ada penguasa lebih besar dari dirinya. Setelah mati atau berbuat kejahatan, ia harus berhadapan dengan pengadilanNya. Ia sangat tergantung kepadaNya. Kekristenan di Indonesia menyebutNya Allah sedangkan agama atau bangsa lain memakai nama berbeda. Namun yang terpenting bukan istilah melainkan personifikasi atau konsepnya mengacu pada yang lebih tinggi dari manusia.

Sensus divinitas bukan semakin dikembangkan tapi justru makin ditekan karena essensi dosa mencengkeram hingga manusia sengaja memberontak dan tak mau tunduk pada otoritas di atasnya. Ia menyatakan dirinya tertinggi maka yang lain harus tunduk. Inilah essensi dosa yang pertama yaitu sengaja menolak dan tak menghormati Allah. Ia makin dewasa semakin keras dan otoritatif hingga ingin selalu jadi pemimpin. Jiwa semacam itu tak baik karena sebenarnya ia yang relatif dan bisa salah tak berhak memiliki otoritas tertinggi.

Lalim ialah sengaja menentang kebenaran dan dengan segala dalih, cara, alasan mencoba mengalihkan, membenarkan atau seolah boleh mentolerir. Manusia juga diberi konsep righteousness (kebenaran keadilan) yang ditanam dalam hati. Maka tak ada pencuri yang tak tahu bahwa tindakannya tak diperbolehkan.

Sejak lahir, bayi langsung mampu menilai. Jangan berpikir ia tak mengerti hingga bisa dibohongi. Ia mungkin lebih peka daripada orang dewasa. Ia bisa tiba-tiba mempertanyakan soal keadilan. Tapi ketika memiliki pengertian, ia justru tak menjalankannya. Ia juga sangat egois hingga selalu berusaha menutupi kesalahan sendiri. Padahal ia tak pernah diajar berbohong. Tiba-tiba ia melakukan kesalahan. Setelah itu, ia jadi malu dan ketakutan karena tahu akan menghadapi kesulitan. Tapi ketika ditanya, ia berani menyangkal. Padahal kebohongan terlihat dari wajah dan tingkah lakunya.

Dalam Roma 2 Paulus mengargumentasikan bahwa tak ada toleransi atau alasan bagi o­rang Atheis yang tak percaya akan adanya Allah sehingga ia berhak melawanNya lalu tak mau mengaku dosa. Pengetahuan tentang keberadaanNya telah ditanam dalam hati terlebih dulu. Jadi, bukan karena rasa ingin tahu manusia. Tapi pengetahuan tersebut tak dikembangkan untuk mencari dan mengetahui Allah sejati.

Di Eropa, banyak orang tak mau mengaku diri Atheis karena terlalu negatif. Sebagai gantinya, mereka menggunakan istilah “free-thinkers” (pemikir bebas). Padahal konsep yang dipikirkan muncul dari diri. Maka otoritas tertinggi di tangannya sendiri. Mereka menolak keberadaanNya supaya bisa jadi allah. Mereka sebenarnya merasa terancam dengan adanya Oknum di atas yang kelak mengadili. Inilah penyataan Nietzsche, filsuf abad 20 awal. Ia juga menyatakan telah membunuh Allah (the Death of God Theology). Itulah thesisnya dalam buku “Ecce Homo” dan “Thus Spake Zarathustra” yang sangat disukai di seluruh dunia karena mewakili kesenangan mereka.

Paulus mengatakan bahwa ketika manusia tak mau memikirkan Allah, keberadaanNya bukan menjadi tak ada. Ia tetap exists. Sesuatu bersifat faktual atau realita sejati tak mungkin diadakan atau ditiadakan oleh pikiran orang. Contoh, seseorang dengan susah hati terus memikirkan anaknya yang telah mati. Walaupun demikian, anak itu takkan hidup kembali. New Age Movement justru mencampurkan virtual (ilusi) dan reality.

Paulus juga mengatakan bahwa ketika manusia melawan kebenaran Allah, hatinya tetap tak dapat ditipu dan akan terus membisikkan Dia ada. Konon ada cerita tentang pemimpin komunis yang ketika mendekati ajal, tiba-tiba dengan gentar mengatakan bahwa ia harus menghadap Tuhan. Pa­dahal seumur hidup ia tak pernah memikirkanNya. Saat itu ia harus berhadapan dengan momen eksistensial. Ia mulai sadar bahwa realita tak mungkin dipungkiri. Alkitab mengatakan suatu saat semua orang harus bertekuk lutut dan tundukkan kepala lalu mengaku bahwa Yesus Kristus ialah Tuhan, entah dengan ucapan syukur atau ketakutan.

Dalam Roma 3 bagian awal, Paulus berargumen tentang mereka yang percaya pada tuhan tapi bukan Tuhan Yesus. Allah yang dipercaya masih belum jelas. Ia mengatakan bahwa percaya kepadaNya belum tentu tak berdosa karena essensi dosa tak tergantung pada kepercayaan. Banyak orang berpikir kepercayaan menyelesaikan dosa. Orang Reformed juga seringkali beranggapan bahwa yang penting ialah percaya kepadaNya sehingga dosa takkan mengganggu jaminan masuk ke Surga. Padahal cara berpikir semacam itu malah membawanya ke Neraka. Dalam Rm 6:23 Paulus mengatakan upah dosa ialah maut. Maka fakta dosa harus dimengerti dengan tepat oleh tiap orang termasuk yang beragama. Realita tersebut tak boleh diabaikan karena memang tak dapat dilepaskan dari hidup di dunia.

Konsep beragama dan iman sejati sangat berbeda. Ada orang dengan sesuka hati memilih agama yang menguntungkan dan dapat memenuhi keinginan pribadi. Ini teori bisnis. Kalau selama mengikut tuhan yang dipilih, dirasa tak mendapat banyak berkat atau malah merugikan maka ia segera cari penggantinya. Sebenarnya yang dicari ialah pembantu supranatural. Seharusnya Tuhanlah yang berdaulat memerintah dan mengatur manusia. Sebagai ciptaan, ia harus taat dan menjalankan kehendakNya. Adapula yang mempunyai konsep tuhan mudah disogok dan diajak dealing. Misalnya, ketika diberi ayam putih seharga Rp 50.000,-, ia langsung memberi berkat sebesar Rp 100.000,-.

Di dunia, banyak konsep agama tak sejati karena menjadi refleksi atau cerminan keinginan manusia. Inilah pemikiran Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman yang sangat sinis terhadap semua agama termasuk Kekristenan padahal backgroundnya juga Kristen karena ia anak Pendeta namun akhirnya jadi Atheis. Sebelumnya, ia berbeban dan dipanggilNya untuk menjadi Pendeta. Ia masuk ke sekolah Teologi liberal. Tapi karena salah sekolah, imannya rusak. Ia berpendapat bahwa Tuhan yang ada di dunia merupakan ciptaan manusia menurut gambar dan rupanya sendiri. Jadi, bukan manusia diciptakanNya oleh Allah menurut gambar dan rupaNya. Maka tak ada guna percaya kepadaNya. Orang dunia pada hakekatnya seringkali berkonsep demikian. Ada anak remaja berpendapat Ia kejam karena di Perjanjian Lama dikisahkan sekian banyak orang, baik pria, wanita dan anak-anak yang melawanNya langsung dibunuh. Allah seharusnya penuh cinta kasih dan tak boleh marah. Selain itu, Ia semestinya tua dan bijaksana, memiliki rambut serta janggut panjang dan putih.

Di dunia telah muncul keterbalikan konsep agama. Maka Paulus berpendapat bahwa semakin manusia taat beragama, ia makin berdosa karena menciptakan tuhannya sendiri dan menolak Tuhan sejati. Kesimpulannya tercatat di Roma 3:23. Ironisnya, di jaman sekarang banyak orang merasa diri baik. Seharusnya mereka menyadari diri berdosa hingga tak ada jalan keluar selain berhadapan dengan murka Allah. Tak ada usaha yang dapat dilakukan untuk kembali ke jalurNya. Berita tersebut tak disukai karena membuat tertekan dan tegang. Maka dunia lebih suka narkoba. Dengan demikian, mereka dapat melupakan kesulitan hidup. Tapi hanya sementara. Kalau overdosis maka langsung pergi ke Neraka.

Iman Kristen mengabarkan bahwa Tuhan membuka jalan, “oleh kasih karunia (anugerah Allah) telah dibenarkan (memperoleh keselamatan) dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Rm 3:24) Paulus berani menulis kalimat tersebut berdasarkan pengalaman hidupnya. Di Yoh 3:16 dicatat, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Hutang tak mungkin mendadak lunas kecuali orang lain bersedia menggantinya. Ketika hutang makin besar tapi ia semakin bangkrut maka tak mungkin mampu melunasinya. Demikian pula dengan dosa. Namun tak seorangpun rela berkorban menanggung beban orang lain kecuali ia sangat mencintainya. Apalagi hutang nyawa. PenebusanNya sangat tuntas dan merupakan pembayaran termahal bagi jemaatNya meskipun sesungguhnya tak ada tuntutan dan keharusan untuk itu. Seharusnya, Ia menghukum seluruh umat manusia.

Alkitab menyatakan bahwa Allah menghendaki manusia bertobat dengan sungguh dan Ia dikembalikan pada posisi yang seharusnya dalam hatinya. Inilah yang menjamin ketika selesai dengan perjalanan sejarah, umatNya takkan dibuang melainkan kembali bersama Dia. Maka kebahagiaan sejati yaitu ketika hidup dalam pimpinanNya. Ia senantiasa memelihara umatNya sehingga tak terus menerus terjebak dosa. Itulah kehidupan terindah. Tapi orang yang hidup menurut keinginan sendiri, setelah selesai pun Ia melepaskannya karena tak pernah bersekutu denganNya. Tuhan yang mengasihi juga adil. Ia menyediakan Surga sekaligus Neraka. Amin. ?

Pergumulan terbesar orang percaya masa kini untuk memiliki watak dan karakter yang luhur adalah berjuang dan berperan melawan kedagingan. Inilah peperangan yang tiada akhir. Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang yang notabene disebut anak-anak Tuhan sudah banyak menjadi korban akibat terjangan “peluru” dan gilasan “roda” kedagingan yang kian kenes saja dan begitu menggoda.
Kemarahan, kekhawatiran, kesombongan, iri hati, ketamakan, pemberontakan, kemalasan, dan hawa nafsu hidup dan berakar dalam diri manusia. 8 sifat dosa ini menyebabkan orang percaya “mati rohani”, sehingga mereka kehilangan karakter kristus.

2 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini adalah :
- Mengetahui Arti Dosa dan Bentuk bentuk Dosa dalam kehidupan seharai-hari
- Mengetahui Penyebab dan Akibat Dosa
- Mengetahui Arti Keselamatan
DOSA

Apakah Dosa Itu?
Siapa yang belum pernah mendengar atau menyebutkan kata dosa? Mungkin tak ada. Barangkali semua orang merasa tahu tentang dosa sejak kecilnya. Tapi baiklah kita bertanya lagi: apa sebenarnya arti dosa? Ya, apa itu dosa? Dan mengapa kita mengaku dosa saban minggu? Di gereja Katolik bahkan mengapa masih disediakan ruang-ruang privat, dimana jemaat dapat mengaku dosanya kepada pastor, tanpa didengar oleh orang
lain? Sebaliknya: mengapa di beberapa gereja tertentu tidak ada lagi pengakuan dosa dalam ibadah? Pertanyaan-pertanyaan ini menyadarkan kita bahwa dosa walaupun begitu sering diucapkan, belum tentu juga jelas dipahami maknanya.

(Empat) Arti Dosa

Berdasarkan kesaksian Alkitab kita bisa merumuskan minimal 4(empat) arti dosa:

Pertama: dosa adalah kegagalan melakukan yang baik dan benar yang diperintahkan Allah. Di sini dosa mirip dengan anak panah yang meleset dari sasaran yang ditentukan. Atau memakai gambaran olah raga, dosa ibarat shuttle cock yang jatuh di luar garis atau bola yang keluar dari gawang.

Sasaran hidup dan tindakan manusia adalah yang baik dan benar, namun adakalanya atau sering manusia gagal atau meleset melakukannya, dan malah melakukan yang jahat dan salah. Itulah dosa. Namun kegagalan ini bukan hanya mencakup tindakan spesifik atau konkret, tetapi juga kegagalan mengasihi orang lain dan kegagalan menjadi manusia yang utuh. Tuhan menciptakan manusia untuk mengasihi sesamanya dan menjadi dirinya sendiri, namun ada kalanya manusia meleset. Alih-alih mengasihi, manusia malah membenci dan mendengki sesamanya. Alih-alih menjadi manusia seutuhnya manusia malah tanpa sadar menjadi “binatang”. Itulah dosa.

Pertanyaan: mengapa manusia sering meleset atau gagal? Sebagian karena manusia itu teledor, tidak hati-hati, terlalu bernafsu, atau kurang latihan. Sebagian lagi karena tergoda oleh iblis atau pengaruh orang lain di luar dirinya. Pertanyaan selanjutnya: mengapa bisa tergoda atau terpengaruh?


Kedua: dosa adalah pemberontakan terhadap pemerintahan Allah. (Kej 3). Namun Alkitab juga melukiskan dosa bukan sekedar kegagalan melakukan yang baik, benar dan bertanggungjawab, tetapi juga sikap memberontak terhadap pemerintahan Allah. Alkitab menyaksikan Allah adalah Raja dan penguasa yang sah atas kehidupan manusia. Dialah yang empunya kerajaan, kuasa dan kemuliaan. Dialah Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Namun manusia memberontak ingin otonom, bebas dari pengendalian Allah, dan menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Itu adalah pemberontakan dan itulah dosa. Dengan kata lain: segala sikap yang memberontak terhadap wewenang dan kuasa Allah memerintah diri kita adalah dosa.

Namun ada pertanyaan menggoda: mengapa manusia memberontak terhadap Allah padahal dia diciptakan oleh Allah?


Ketiga: dosa adalah bakat, potensi, dan kecenderungan melakukan yang jahat yang melekat di dalam diri manusia. Namun kekristenan menggambarkan dosa lebih parah dan buruk dari kegagalan melakukan yang baik. Dosa dilukiskan sebagai bakat melakukan yang jahat yang melekat dalam diri manusia itu sejak lahir sampai mati. Sesuai dengan istilahnya, bakat melakukan yang jahat (baca: mencuri, berbohong dan berzinah dll) itu bukan sekedar pengaruh lingkungan tetapi memang menjadi bagian asali diri manusia itu.

Contoh: jika ada seorang anak kecil sejak lahir dipisahkan dari lingkungannya dan dibesarkan sendirian di biara tertutup atau gereja, jauh dari pengaruh buruk, dia akan tetap mampu melakukan berbohong atau mencuri. Mengapa? Karena bakat yang jahat itu memang dibawanya dari lahir. Tentu saja saat bayi ia belum bisa berbuat apa-apa, namun potensi itu sudah ada. Sejalan dengan pertumbuhan fisik dan psikisnya bakat yang jahat itu bisa berkembang.


Manusia diciptakan Allah baik adanya. Namun kejatuhannya ke dalam dosa, membuat manusia menjadi retak dan tidak lagi sempurna. Dia tidak lagi semata-mata baik. Manusia tanpa kecuali mempunyai potensi atau kemampuan dalam dirinya untuk salah, keliru atau bahkan jahat. Inilah hakikat kemanusiaan itu. Selain mampu melakukan hal-hal baik, benar dan indah, manusia ternyata juga bisa melakukan hal-hal jahat, salah dan jelek. Namun dosa itu sudah terlalu parah, potensi dan bakat melakukan yang jahat itu bahkan sudah menjadi kecenderungan atau tendensi dalam diri manusia. Manusia apabila dibiarkan pasti menyimpang. Manusia apabila diberikan kesempatan (apalagi lebih dari satu kali) pasti akan mencuri. Setiap manusia (laki-laki atau perempuan, pelayan atau warga gereja biasa) cenderung untuk korupsi, apalagi bila kondisi dan situasinya mendukung.

Keempat: Dosa adalah kuasa atau tuan yang membelenggu manusia dan mendorong manusia melakukan yang jahat. Bukan mencuri, menipu atau membunuh yang membuat manusia berdosa. Tetapi sebaliknya keberdosaan manusia itulah yang membuatnya mencuri, menipu, membunuh dan melakukan berbagai kejahatan. Dosa bukan akibat tindakan kejahatan tetapi penyebab kejahatan. Dosa adalah biang kerok kejahatan yang membawa kepada maut. Manusia (termasuk para pelayan gereja) tidak dapat melepaskan dirinya dari kondisi dosa itu. Syukurlah Allah telah mengutus PutraNya Yesus, sehingga manusia dibebaskan dari perhambaan dosa dan diangkat menjadi hamba dan anak Allah. Namun selama manusia masih hidup di dunia dan selama masih manusia, sisa-sisa kuasa dosa itu masih melekat. Jika dosa itu ibarat lebah, maka kepalanya sudah diremukkan, namun ekornya masih dapat menyengat. Ibarat peperangan, ibukota dan pemerintahan dosa itu sudah dihancurkan, namun sisa-sisa pasukannya di berbagai wilayah masih potensial mengganggu.


Pencobaan manusia
Pencobaan terhadap manusia meliputi pencobaan terhadap tubuh, jiwa, dan roh.
I yohanes 2: 15-17
Janganlah kamu mengasihi dunia dn apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua orang yang ada didalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata, serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Kejadian 3:6a
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatanya, lagipula (buah) pohon tiu menarik hati karena memberi pengertian. (menjadi seperti Allah)
- KEINGINAN DAGING
- KEINGINAN MATA
- KESOMBONGAN - TUBUH
- JIWA
- ROH


a. Kemarahan
“ Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah memperbesar kebodohannya”
( Ams. 14:29)
Eva, gadis remaja itu, tertunduk diam, meski agak susah menangkap kalimat kakek Philip, kakenya, yang berbobot. Dalam hatinya ia memuji kakeknya yang pengetahuannya luas. Meski sudah berusia lanjut, kakeknya masih tekun membaca buku, seperti buku agama, politik, filsafat, psikologi, tetapi tak ketinggalan alkitab yang menjadi pedoman tertingginya.
Jadi tidak boleh marah ya kek?” tanya eva penasaran. Dia menggelengkan kepala sambil terkekeh-kekeh, ” bukan begitu cucuku. Kita boleh marah. Bukankah kakek juga pernah marah padamu, eva?” eva pun mengangguk-angguk.
Tetapi kemudian gadis kecil itu mengernyitkan dahi dan berkata, ” tapi kek, mengapa pak pendeta tadi mengatakan kita tidak boleh marah? Apa marah itu dosa?”
Apakah marah itu dosa?

Arti
Marah adalah luapan emosi yang timbul pada saat seseoang dipojokan, diremehkan, difitnah atau mendapat perlakuan-perlakuan lain yang dapat menyinggung harga diri seseorang atau karena frustasi. Luapan emosi yang timbul dapat menimbulkan kekuatan yang tidak terduga, seringkali kemarahan diekspresikan dalam bentuk perlawanan fisik, sumpah serapah, bahkan perbuatan yang destruktif (merusak). Semua ekspresi ini ditunjukan secara terang-terangan. Ekspresi lainnya mendiamkan orang yang menjadi penyebab kemarahan dalam angka waktu tertentu, bisa singkat isa juga panjang.
Menurut para ahli ilmu jiwa, kemarahan adalah the chief saboteur of mind. Kemarahan merupakan faktor utama yang seringkali melumpuhkan akal sehat bahkan dapat menimbulkan berbagai kesusahan dan gangguan jiwa lainnya.

Pandangan Alkitab
Jika kita membaca seluruh isi alkitab, kita akan menemukan kata ”kemarahan atau marah” sebanyak ratusan kali. Dalam Bible-works ”kemarahan” (anger) berjumlah 247 kata, belum termasuk yang menyingggung topik-topik lain dari erita yang menyiratkan kemarahan. Alkitab tidak haya mencatat kemarahan manusia (human anger) seperti nabi Elia (1 Raj. 19:10,14) dan Nabi Samuel (1 Sam. 15:33), tetapi juga kemarahan sebagai atribut-Nya. Artinya, kemarahan atau marah itu tidak selalu berkonotasi negatif. Alkitab mencatat bahwa kemarahan tidak selalu buruk atau berdosa. Allah juga pernah marah dan Tuhan Yesus pu pernah marah (Mark. 3:5). Tetapi kita harus waspada karena kemarahan dapat membuat kita terjerumus ke dalam dosa.
Alkitab perjanjian baru menuliskan istilah ”marah” dengan tiga kata Yunani yang berbeda :

1. Orge
Orge dipakai dalam Efesus 4:26 ” boleh marah tapi jangan berbuat dosa” orge berarti kemaahan yang menyala karena dosa atau tindakan yang tidak benar. Kemarahan tanpa kebencian karena ketiakadilan. Gejolak emosinya dapat dikontrol karena tujuannya memperbaiki kesalahan-kesalahan. Contoh, ketika Tuhan Yesus marah di bait Allah. Kemarahan-Nya bukan karena dendam kepada para pedagang di Bait Allah yang berbuat salah. kemarahanNya benar-benar dilakukan demi kebaikan dan kenyamanan orang-orang yang akan beribadah di Bait Allah. Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari adalah kemarahan orang tua pada anaknya yang berbuat salah, misal mencuri, atau menipu orang lain. Orang tua yang baik pasti tidak akan membiarkan anaknya melakukan pelanggaran moral. Sebagai tanda kasih kepada anaknya, mereka memarahi anaknya. Mungkin saja mereka memukul pantatnya agar anaknya menjadi anak yang baik.

2. Parogismis
Parogismis dapat diartikan sakit hati atau tersinggung. Kata ini dipakai dalam Efesus 4:26”...Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu”. Mungkin inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika Ia berbicara dengan murid-murid-Nya tentang pengampunan. Ia berkata ”Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah ia dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engakau tjuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kapadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia” (Luk. 17:3-4 ). Namun, mengampuni orang ang membuat diri kita tersinggung memang tidak semudah membalik telapak tangan. Inilah pergumulan para murid ketika Tuhn Yesus mengajar agar mengampuni ornag yang bersalah kepada kita sebanayak tujuh kali sehari. Itulah sebabbnya murid-murid minta agar ditambahakan iman, ”Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:8). Makan permohonan ini ialah mereka diberi tamabhan kasih karunia agar bisa mengampuni, karen apada dasarnya manusia adalah pemaah dan tidak suka mengampuni. Paogismis bisa terjadi secara spontanitas saat orang lain menyinggung perasaannya. Dalam kasus-kasus tertentu kita juga pernah merasakan parogismis. Namun, jangan beri kesempatan pada Iblis untuk mencari keuntungan dari kemarahan kita! Kemarahan harus dituntaskan sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Jika tidak kita akan jatuh dalam pelbagai cobaan. Imbasnya tidak sepele. Contohnya perbuatan anak-anak Simon dan Lewi, anak Yakub terhadap Sikhem, anak hemor (kej.34:1-31). Mereka tersinggung dan sakit hati atas prlakuan Sikhem, yang memperlakukan Dina adik mereka seperti seorang pelacur. Mereka merasa dilecehkan, dirndahkan, dan tiak dihargai. Kemarahan itu tidak diselesaikan secapatnya. Mereka membiarkan perasaan itu terus berkecamuk didalam dada. Akibatnya terjadi pembantaian. Dalam kisah ini aak-anak yakub melakukan tipu musliaht untuk membalas perlakuan Sikhem yang tak senonoh walapun Hemor sudah berbicara kepada Yakub agar mengampuni Sikhem. Ia juga rela membayar apa saj yang diminta Yakub. Bahkan Sihem pun bersedia menikahi Dina. Rupanya sakit hati dan dendam tidak hilang jika tidak dibalas. Begitulah pikiran imon dan Lewi. ” Kami tidak akan begitu saja menyerahkan adik kami kepada laki-laki yang tak bersunat, sebab hal itu aib bagi kami. Hanya dengan syarat ini kami mau menyetji permintaanmu: kamu harus sama seperti kami yaitu setiap laik-laki diantaramu harus disunat...” Hemor dan Sikhem pun setuju dengan permintaan mereka. Pada hari ketiga ketka mereka sedang kesakitan, Simeon dan Lewi menyerang dan membunuh mereka. Ketika hal itu diketahui Yakub, kedua anaknya ditegiur. Tetapi mereka menjawab, ”Mengapa adik kita diperlakukan sebgai seorang perempuan sundal?” itulah kemarah yang dibiarkan sampai matahari terbenam. Dampaknya tidak kecil.

3. Thumos
Kata ini dipakai dalam Efesus 4:31. Kata thumos dipakai untuk menunjuk perasaan geram, kemarahan yang meluap-luap atau bermusuhan. Ini gejala emosi yang harus dijauhkan dari hidup kita. Mengapa? Sederhana saja karena kemarahan model ini dapat membawa kita melakukan perbuatan-perbuatan destruktif dan pertengkaran yang tiada hentinya. Memang parogismis dengan thumos tidak jauh. Keduanya memilki dampak yang buruk. Bedanya thumos menunjukan kemarahan yang benar-benar destruktif. Thumos merupakan tingkatan dari progismis yag belum terselesaikan. Misal sikap Lewi dan Simeon anak Hemor. Contoh nyata dalma kehidupan sehari-hari yang mudah kita saksikan adalah kasus pembunuhan yang dilatar balakangi kasu thummos. Bahakan stroke dan serangan jantung tidak jarang disebabkan oleh thumos. Inti pelajaran dari model kemarahan seperti ini adalah kita boleh marah tapi dalam tahap orge saja. Namun, kita tetap perlu waspada. Karena orge bisa meningkat menjadi parogismis bahakan thumos. Kita harus hati-hati dengan segala bentuk kemarahan!

Penyebab
Selain kemarahan yang suda disebutkan di atas, G. S Gates, dalam bukunya yang berjudul An Observation Study Of anger, mengetengahkan research yang dibuat setengah abad yang lalu. Dalam research tersebut suatu kelompok mahasiswa dari sebuah college diminta menuliskan hal-hal yang menjadi penybab timbulnya kemarahan dalam kurun waktu satu minggu. Hasilnya lebih dari 80% kemarahan ag mereka alami disebabkan oleh sikap dan perbuatan orang lain dari pada keadaan atau peristiwa tertentu. Maraha adalah reaksi dari sikap orang lain kuarang menyenangkanya. Sya pernah marah kepada salah satu pendeta yang mengundan saya berkhotnah pada ibadah minggu pagi. Ketika saya sampai didepa gereja, ternyata pengkhotnahnya orang lain. Di tidak memberitahu sya jadwal saya diundur hari minggu bulan berikutnya. Bayangkan saja! Saya sudah rela membatalkan pelayanan yang lain demi Minggu itu, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak. Bagaimana tidak marah? Ini adalah bentuk kemarahan yang disebabkan oleh orang lain.
Tetapi inti dari seua itu tergantung rspons kita terhadap situasi tersebut. Marah merupakan pilihan, bukan keharusan. Tetpai jika kita tenang dan berpikir positif niscya kita dapat mengendalikan kemarahan. Kekuatan rohani seseorang biasanya diukur seberapa kuat ia menghadapi tekann lingkungan. Dari penjelasan ini tersirat bahwa kemarahan dapat muncul bila disebabkan kerohanian yang tidak sehat. Marahan bisa terjadi oleh beberapa hal lain seperti roh tidak mau mengampuni orang yang bersalah, roh yang tidak mau berterima kasih, balas dendam, ketidakadilan, bersungut-sungut, suka mengeluh, frustsi dengan keadaan yang tidak bisa diubah dan memilki perasaan yang terlalu sensitif atau perasa.

Akibat
Bebrapa akibat yang timbul karena kemarhaan yang tidak terkontrol, antara lain:

1. Secara Fisik
Tekanan darah jadi naik, jantung berdebar-debar dan berdetak lebih cepat serta otot-otot menjadi tegang. Secara kasat mata kalau kita menyaksikan orang dengan kemarahan yang hebat biasanya tubuh, bibir, dan tangannya bergetar. Jika ada orang yang tidak bisa mengatasinya aia akan mengidap tekanan darah tinggi, serangan jantung, kelumpuhan, gangguan pencernaan, dan sakit pada otoo.

2. Secara Psikis
Secara psikis orang yang edang marah akan sulit mengambil keputusan yang rasional karena ia tidak bisa berpikir secara logis. Misalnya saja seorang suam atau istri mengusir pasangannya dari rumah atau orang tua menganiaya anaknya hingga sekarat. Ini semua terjadi karena kemarahan yang tak terkendali sehingga pikiran menjadi tidak rasional. Akibatnya terjadi penyesalan yang selalu datang kemudian.

3. Hubungan dengan Sesama menjadi Terhambat
Jika dibiarkan, kemarahan akan terus berkembang. Tuaian bururk dari Si pemarah biasanya orang-orang disekelilingnya lambat laun akan meninggalkannya karena tidak nyaman bersahabat dengannya.

b. Kekhawatiran
Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan pula khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada pakian? (Mat 6:250)

Tak dapat disangkal bahwa manusia pasti merasa khawatir. Perasaan itu bisa menghinggapi siapa saja tanpa dibatasi waktu dan tempat. Sebagian kita mungkin pernah merasa takut akan masa depan, takut tidak mendapatkan pasangan hidup yang baik, takut dipecat dari pekerjaan, taku anak-anak tidak bisa menjadi orang yang ssuai dngan harapan kita. Kalau begitu apa sih definis dari khawati atau kekhawatiran?

Arti
Kekhawatiran adalah gejala emosi yang sanagt mirip dngan kegelisahan. Worry berasal dari kata anglo-saxon ang artinya”mencekik”. Penjelasan ini di gambarkan seperti orang yang sdang meletakan jarinya di tenggorokan kita, kemudian menekannya dengan kuat. Ini merupakan demonstrasi yang dramatis dari apa yang kita lakukan pada diri sendiri. Khawati itu wajar. Perasaan ini tidak bisa dihindari. Setiap orang pasti mengalaminya. Namun, kada kekhawatiran tiap orang berbeda-beda. Hanya jika tidak ditangani dengan baik, kekhawatiran dapat merusak kepribadian. Kekhawatiran biasa dapat menjadi kekhawatiran kronis. Kekhawatiran kronis dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan kita. Tidak satu pun bersifat positif. Semuanya neatif. Bahkan, kita sendiri pun menyaari bahwa tenaga dan waktu kita habiskan tidak ada gunanya sama sekali. Kita akan berhenti merasa khawatir kalau kita mengerti cara mengatasinya. Namun sebagian dari kita terus hidup menderita karena perasaan tersebut.

Akibat
1. Memperburuk Presasi Seseorang
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya apat menambah sehasta saja pada jala hidupmu? (Mat 6:27)
Kekhawatiran yang berlebihan dapat merusak prestasi seseroang. Misal mahasiswa yang sebentar lagi menghadap ujian sehingga hasil ujiannya tidak pernah bags. Kekhawatiran mulai muncul, bahkan sebelum ujian berlangsung. Pada umumnya mereka gelisah karena sudah membayangkan hasil ujiannya tidak bagus. Jangan-jangan hasil tesnya jelek apabila persiapan tidak mencukupi. Selama tes berlangsung kekhawatiran mempunyai pengaruh negatif. Orang yang khwatir mengalami kesulitan untuk mengingat kembali pelajaan yang telah dipelajari.
Sebuah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa kehidupan orang yang khawatir itu umurnya lebih pendek dari pada orag yang hidup tanpa kekhawatiran. Umur orang ynag mengalami kekhawatiran kronis dapat dipastikan tidak akan lama. Banyak diantara mereka mneinggal sebelum waktuya alias bunuh diri dari pada hidup dalam kekhawatiran yang tiada akhir.

2. Kekhawatiran merusak kesehatan fisik
Kekhawatiran dalam hati membungkukan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. (Ams 12:25)

Seperti telah disebutkan penelitian diatas, orang yang megalami kekhawatiran kronis suka tidur berkepajangan. Namun bebeapa peneliti lain juga menemukan adanya gejala yang berlawanan dngan kesimpulan tadi. Kekhawatiran dan penyakit tidak dapat tidur (insomia) sering saling berkaitan. Mereka yang mengalami insomnia melaporkan bahwa kekhawatiran yang sangat mengganggu dan tidak dapat dikontrol tiba-tiba muncul dalam pikiran ketika mereka berusah untuk tidur. Pikiranpikiran tersebut menggangu sehingga tidak dapat rileks dan terlelap. Disamping itu orang yang mengalami kekhawatiran dan kecemasan kronis dapat menderita gangguan fisik seperti yang dialami oleh penderita stres akut. Gejalanya jantung berdebar-debar, syaraf tegang, tubuh gemetar, berkeringat dan nyeri labung. Jumlah gangguan diatas bisa bertambah banyak jika orang itu mengalami gangguan emosi berat. Apabila hal tersebu terjadi dalam waktu yang lama, kesehatannya terganggu. Studi terhadap 176 eksekituf di amerika yang rata-rata berusia empat puluh tahun mendapati bahwa setengah dari mereka mengidap tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau tukak lambung karena kekhawatiran.

3. Melumpuhkan Akal Sehat
Orang yang mengalami khawatir krois biasanya merasa bahwa semua hal yang dikhawatirkan akan benar-benar terjadi, sehingga ia cenderung menuruti kata hatinya dari pada menuruti fiman Tuhan. Disini jelas bahwa penguatir kronis tidak mampu berpikir dengan jernih. Misal, Yerobeam bin Nebat, seorang Efraim dari Sereda. Ia rajin bekerja dan seorang yang tangkas. Melalui Nabi Ahia, Yerobeam diberitahu bahwa ia akan memerintah sepuluh suku Israel. Tidak lama kemudian firman itu digenapi. Ia pun memerintah sepuluh suku israel. Kemudian, ia memperkuat Sikhem di pegunungan Efrai dan Pnuel. Tapi kemudian ia khawatir kalau-kalau kerajaan dan atau bangsa yang dipimpinnya akan berbalik pada keluarga Daud. Kekhawatiran yang paling fatal ialah dibunuh mereka. Berkatalah Yerobeam dalam hatinya, ”Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu ergi mempersembahkan korban semblihan dirumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam raja mereka (1 Raj. 12: 25-28).
Bermula dari kekhawatiran yang tidak ditangani secara serius inilah, ia kemudian meragukan janji Allah dan berpaling dariNya. Kemudian ia mempersembahkan kurban pada patung anak-anak lembu yang telah dibuat dari emas, karena hal itu ornag menjadi berdosa. Ia membuat kuil-kuil diatas bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi. Ia meninggal dalam ketidaktaan kepada Allah ( 1 Raj. 13:1-34)
Alkitab mencatat ”Allah itu bukan manusia, seingga IA menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya (Bil 23:19)
Kesalahan fatal yang dibuat Yerobeam adalah meragukan janji-janji Allah. Ia telah menghabiskan banyak waktu untuk kekhawatiran dan resah. Ia menganggap bahwa kemumnkinan dalam kekhawatirannya sungguh-sungguh akan terjadi. Kekhawatiran itu bisa saja terjadi, tetapi sangat kecil kemungkinannya. Makin Khawatir, Khawatir pikiran para penguatir kronis makin tiak jernih.

4. Melumpuhkan Iman
Dalam memberi pengajaran tentang pertumbuhan rohani, Tuhan Yesus iasanya mengajarkan melalui perumpamaan-perumpamaan. Salah satu perumpamaan seorang penabur (Mat 13:1-23).
Kata-Nya, ”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu iut Ia menabur, lalu datanglah burung dn memakannya sampai habis. Sebagian jatuh ditanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh ditengah semak duri, lalu makin besarlah semak dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh ditanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali.
Arti perumpamaan tersebut adalah setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaaan surga, tetapi tidak mengerti, si jahat datang dan merampas yang ditaburkan didalam hai orang itu. Itulah benih yang ditaburkan dipinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakardan tahan sebentar saj. Apabila datang penindasan atau penganiyaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Benih yang di taburkan ditengah semak duri ialah orang menengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Benih yang ditaburkan ditanah yang baik adalah orang yang mendengar firman itu dan mengertinya. Karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Dari perumpamaan ini jelas bahwa benih yang ditaburkan ditengah semak duri itu tumbuh tapi tidak menghasilkan buah. Semak duri diartikan dengan kekhawatiran yang menghimpit hidup, sehingga tidak bisa bertumbuh dan menhasilkan buah. Demikian pula iman para penguatir kronis dapat dipastikan tidak aan bertumbuh dan mengahsilkan buah.

Tanda-tanda kekhawatiran
1. Tidak bisa tenang ( Cemas, Gelisah)
2. Suka membesarkan keungkinan-kemungkinan yang kecil dalma pembicaraan.
3. Sulit tidur


c. Kesombongan
Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberikan kasih karunia kepada orang yang rendah hati (Yak 4:6)

Setan bukan musuh terbesar kita. Musuh utama dan terbesar kita adalah kesombongan. Sikap ini mendasari banyak problem dan konflik. Kita menyadari bahwa sikap ini tidak menyenangkan, tidak disukai oleh banyak orang termasuk kita. Namun tanpa disadari, kita juga salah satu pelakunya. Mengherankan bukan kesombongan adalah aka dari smua problem manusia.

Arti
Dalm kamus umum bahasa indonesi, yang disusun oleh W. J. S. Poerwadarminta, sombong atau kesombongan diartikan angkuh, congkak, takabur dan pongah serta menghargai diri berlebih-lebih.
Ajaran Yunani selama 4 abad terakhir SM, berbeda dengan ajaran Yahudi. Menurut ajaran Yunani tinggi hati dianggap sbagai kebajikan dan rendah hati dianggap sebagai hal yang harus dihina. Hal ini terkait dengan ajran Aristoteles tentang ”Manusia berjiwa besar” sangat menghargai keunggulan diri sendiri. Andaikata ia menganggap rendah sikap tinggi hati, ia akan di cap sebagai orang yang jiwanya lemah. Demikian juga para guru. Stoa meneguhkan moralnya sendiri yang bebas dan kesamaannya degan Dewa Zeus.
Dalam 1 Timotius 3:6, kesombongan dihubungkan dengan hubungan iblis dan masih menjerat manusia. Itulah sebabnya diseluruh kitab perjanjian lama terdapat pengukuman yanng terus menerus atas sikap tinggi hati. Raja Nebukadnzar mengalami kejatuhan karena kesombongannya ( Dan 4:30,37)
Kesombongan merupakan salah satu sifat yang paling dibenci TUHAN. ”Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan; kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut yang penh tipu muslihat” (Ams. 8:13). Mengapa Tuhan membenci sifat ini? Aquinas berkata bahwa sifat itu pertama kali muncul ketika iblis berusaha menduduki tempat tertinggi, karena keangkuhannya ia menganggap dirinya tidak tergantung kepada Allah ( Yes. 14: 12-14). Jadi kesombongan itu berasal darinya dan bertentangan dengan karakter Allah. Kesombongan dalam bahasa Ibrani adalah ge’a dan ga’wa yang diterjemahkan kecongkakan. Govah adalah istilah lain yang digunakan untuk menyebut kesombongan. Sifat itu muncul sebagai sebab utama dari kefasikan. Dalam bahasa Yunani dipakai istilah huperefania atau huperefanois (tinggi hati), hubristas (congkak) dan alazonas (sombong). Dalam Markus 7:22 Tuhan Yesus menempatkan huperefania dalma daftar kejahatan yang merusak, yang keluar dari hati yang jahat. Dalam nyanian dan pujian Maria Allah mencerai beraikan orang yang congkak hatinya (Luk. 1:51). Rasul Paulus mengggabungkan orang yang congkak dan sombong dengan orang berdosa yang tinggi hti dan rusak akhlaknya yang tinggal ditengah masyarakat sehingga perlu dijauhi (Rm. 1:30; 2 Tim. 3:2,5).
Dalam berbagai kasus dalam Alkitab, kesombongan disebut 57 kali. Misal, Goliat merendahkan barisan tentara Israel (1 sam. 17) atau raja Uzia semakin angkuh karena merasa kuat dan ia menjadi setia kepad Tuhan (2 Taw. 26).
Dalam banyak kasus, kesombongan muncul karen aseseorang erasa lebih kuat dari pada orang lain seperti Goliat yang meremehkan Daud. Terkadang, kemakmuran dan kejayaan pun menjadi argumen yang tepat untuk menjadi angkuh. Dala Yehezkiel 28:11-19, raja Tirus jatuh karena kesombongan dan kecongkakan hatinya atas kemakmuran dan kejayaan yang dimilikinya (bandingkan engan 1 Tim.3:6). Sifat sombong yang lain adalah ambisi yang berlebihan dan keinginan yang tidak terkendali.
Belum pernah ada satupun kisah dalam Alkitab yang menunjukan bahwa orang yang sombong memperoleh keuntungan yang besar atau mengalami kejayaan. Kehidupan orang-oang yang sombong selalu berujung pada peneritaan yang tiada tara. Mereka tidak lebih berharga dari pada barang rongsokan. Sungguh mereka tidak memiliki apa-apa. Orang-orang yang sombong menuai mimpi-mimpi buruk; tidak ada sesuatu pun yang baik. Mereka direndahkan bak binatag (Dan. 5:20-21), dianggap najis ( 2 Taw. 26:16-21), dan akan menuai kebinasaan (1 Sam. 17:40-54).

Penyebab
Tanda-tanda adanya akar kesombongan dalam diri kita adalah :
1. tidak suka meminta pertologan Allah atau orang lain.
2. suka pilih-pilih teman.
3. tidak mau mengakui kesalah-kesalahan
4. tidak mau belajar/diajar
5. bersikap meberontak.
6. meremehkan atau memandang rendah orang lain.
7. percakapan berpusat pada diri sendiri.
8. tidak tolean terhadap kesalahan orang lain.
9. Sikap ngebos, suka memerintah, tetapi tidak mau diperintah.

Akibat
Siapa menabur, ia juga akan menuai. Menabur kebaikan, menuai kebaikan. Siapa menabur kesombongan, ia juga akan menerima buah dari kesombongan itu. Kitab Amsal mencantmkan buah-buah dari kesombongan sebagai berikut :
1. Menuai Cemooh
”Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh,...” (Ams. 11:2). Saya belum pernah menemukan seorang pun yang dipuji oleh karena kesombongannya. Orang, yang suka membual, meninggikan diri sendiri tidak mau minta maaf atas kesalahan-kesalahn yang dibuat, sudah selayaknya menuai kritik yang pedas dan tidak jarang para pecinta kesombongan itu dimaki-maki.

2. Menuai Kehancuran atau Kejatuhan
”Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Ams. 16:18)
Uzia menjadi raja pada umur 16 tahun dan memerintah yehuda selama lima puluh dua tahun. Namanya makin hari makin masyur sampai ke negeri-negeri jauh. Karena ia tolong dengan cara yang ajaib, ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga tidak setia lagi kepada TUHAN, Allahnya. Ia memasuki bait Allah dan membakar mezbah pembakaran yang semestinya di lakukan oleh para imam. Keangkuhan Uzia membuat para imam risihh. Dengan tegas para imam dibawah pimpinan Azarya pun menegurnya. Uzia bukan sadar tetapi justru marah. Akhirnya ia tinggal dirumah pegasigan dan dikucilkan. Ia mati setelah menderita sakit kusta yang tak tersebuhkan. (2 Taw. 26)

3. Direndahkan
”Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian” (Ams. 29:23)
”Sebab barangsipa meninggikan diri direndahkan....” (Mat 18:14)
Ingat peristiwa yang menimpa Nebukadnezar, raja Babel? Dengan segla keangkuhan dan kecongkakannya, ia akhirnya dihalau diantara manusia dan tempat tinggalnya diantara binatang-binatang dipadang rumput seperti lembu, tubuhnya basah oleh embun dari langit, rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. Setelah hukumanya berlangsung selama tujuh masa, Nebukadnezar mengakui bahwa Allah Maha tinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya (Dan. 4:1-37).
Untuk itu belajarlah rendha hati dan ajngan sombong. Kesombongan tidak pernah membawa keuntungan apapun. TUHAN justru akan mencoba merendahkan siapa saja yang mencoba berperilaku sombong.

4. Pertengkaran
”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10)
Salah satu tanda adanya akar kesombongan ialah tidak adanyakeinginan untuk mengakui kesalahan-kesalahannya. Jika dibiarkan ia menjadi tidak tahu diri. Jika ditegur, ia membela diri dan menyalahkan orang lain. Hal yang paling menyedihkan, orang sombong akan merasa terganggu bila di tegur. Karena ia akan berbalik memusuhi orang-orang yang menegurnya.
Mengapa kepala Yohanes pembaptis dipisah dari tubuhnya? Kaena ia menegur Herode yang menjalin hubungan dengan Heroodias, istri Filipus saudaranya (Mat. 14:1-12). Inilah yang dimaksud deengankecongkakan atau kesombongan yang menimbulkan petengkaran.

d. Iri Hati
Sebab, jika diantara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor. 3:3)

Iri hati? Kata ini sering kita dengar, sering kita ucapkan di bibir, dan juga sering tinggal di dalam hati walaupun kita tidak mengakuinya secara terang-terangan. Apalagi kepada oang yang membuat kita iri. Iri hati adalah sifat, yang tidak tepuji, yang harus disingkirkan dari hati kita karena bertentangan dengan karakter TUHAN. Tetapi anehnya, kita sering kembali ke kubangan yang sama.

Arti
Iri hati adalah persaan tidak senang yang timbul karena sesuatu yang dimilki orang lain atau kekurangan yang timbul karena melihat apa yang dimiliki orang lain. Meskipun demikian, iri hati tidak selalu ”ingin memiliki yang dimiliki orang lain”. Barangkali kebutuhan akan superirity adalah akar dari iri hati.
Kata Ibrani untuk iri hati adalahqin’a. Artinya menyala, warna merah yang tampak pada wajah seseorang yang diliputi perasaan tidak senang kepada seseorang yang memiliki sesuatu, tetapi tidak miliki. Kata Yunani untuk iri hati adalah fthonos yang diterjemahkan dengki. Misal, ”ia memang mengetahui bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki” (Mat.27:18). Iri hati menandakan sifat khas hidup yang belum ditebus (Rm. 1:29; Gal. 5:21; 1Tim.6:4; Tit. 3:3), itulah roh yang menyalibkan Tuhan Yesus (Mat. 27:18; Mark. 15:10).

Penyebab Iri Hati
1. Tidak Suka melihat orang lain sukses
Dia berharap haya dia sendiri yang paling bahagia, paling punya, tdaka ada yang boleh melebihi. Segala sesuatu harus untukku dan untukku. Orang lain nanti saja. Jika pelu tak usah. Iri hati kadangkala di latarbelakangi sifat egois. Pikiran-pikiran irasional dan mudah gelap mata meupaka ciri dari orang-orang yang tak ingin melihat orang lain sukses.
Apa yang terjadi ketika rakyat Israel menyanyikan ”Saul mengalahkan beribu-ribu musush, tetapi Daud berlaksa-laksa”? Alkitab mencatat bahwa puji-pujian itu membuat Saul dengki, sakit hati dan iri hati kepada Daud. Kemudian perasaan-perasaan itu diwujudkan dengan kemarahan-kemarahan yang meledak (1 Sam. 18:7-9).
Contoh lain hasil studi Institute Of Criminology yang menyelidiki 163 kasus pembunuhan atau percobaan pembunuh bayaran menyebutkan bahwa motif paling banyak menyewa pembunuh bayaran karena bertalian dengan retaknya hubungan antar pasangan. Lebih spesifiknya adalah cemburu dan iri hati dengan mencegah orang yag dicintai menjalin hubungan dengan orang lain (METEOR, 7 Maret 2005)

2. Sakit Hati yang Tidak Terselesaikan
Ketika Daud mengalami penderitaan karena ia melarikan diri akibat pemberontakan yang dilakukan Absalom anaknya Simei bin Gera justru mencemoohnya. Hal itu dilakukan ketika Daud tiba Bahurim. ”Maka keluarlah dari sana seorang kaum Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja ia terus menerus mengutuk. Daud dan semua pegawai Raja Daud dilemparinya dengan batu, walau segenap tentara dan pahlawan berjalan dikiri kanannya. Ia terus berkata: ”Enyalah, enyalah engkau penumpah darah, orang dursila! Tuhan telah membalas kepadamu segala darah Saul, yang engakau gantikan menjadi Raja, Tuhan telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu absalom. Sesungguhnya engkau dirundung malang, karena engkau penumpah darah.... sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu” (2 Sam. 16:5-14)
”hilangkanlah segala perasaan sakit hati, dendam dan marah. Jangan lagi berteriak-teriak dan memaki-maki. Jangan lagi ada perasaan benci atau perasaan lain semacam itu” (Ef. 4:31, BIS)


e. Ketamakan
”Berjaga-jagalah dan waspada terhadap ketamakan,
sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu”
(Luk 12:15)

Dalam Lukas 12:13-21 Tuhan Yesus memberi peumpamaan tentang ketamakan. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul ”Orang Kaya yang Bodoh”. Orang tamak digambarkan sebagai orang yang tidak mau berbagi warisan dengan saudaranya. Dia juga digambarkan sebagai orang kaya yang hanya menimbun dan terus menimbun kekayaannya sebagai persediaan di kemudian hari dan bersenang-senang. Namun dia tidak menyadari bahwa kematian sudah menunggunya diambang pintu. ”Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah dengan orang-orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya dihadapan Allah” (Luk. 12:20).

Arti
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, ketamakan didefinisikan sebagai keinginan untuk memperoleh (harta,dsb) sebanyak-banyaknya. Kata ini ada kalanya dikaitkan dengan sikap culas atau curang. Orang Ibrani berpendapat bahwa orang yang tamak dibayangkan sebagai jiwa yang penuh keinginan-keinginan yang bersemangat, yang mendorongnya untuk memperluas pengaruhnya atas orang lain atau barang-barang.
Dalam bahasa Ibrani ada tiga kata yang dipahami sebagai tamak, yaitu khamad, menginginkan milik tetangga (Ul. 5:21; Mik.2:2), besta, menginginkan keuntungan yang tak jujur (Ams. 28:16; Yer 6:13) dan awa, mementingkan diri sendiri (Ams. 21:26). Dalam perjanjian lama keinginan ini biasa disebut ”mengingini”. Dalam perjanjian lama ketamkan juga ditempatkan di bwaha kutukan (Kel. 20:17) dan akan diilontari batu bagi kejahatan itu (Yos. 7:16-26).
Beberapa pengkhotbah mnegidentikan ketamakan, keserahkahan dan kikir dengan gaya hidup Bileam. Bileam adalah sosok manusia yang penuh kharisma. Perkataannya full power . Apa yang dikatakannya pasti terjadi. ”....siapa yang kau berkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kau kutuk, dia kena kutuk” (Bil. 22:6).
Bileam awalnya orang yang takut akan Tuhan dan dekat dengan-Nya. Ini terbukti ketika orang-orang utusan Balak datang kepadanya dan memintannya untuk mengutuk bangsa Israel. Namun Bilea berkata, sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan peak seistana penuh, aku tidak sanggup berbuat sesuatu, ang kecil atau yang besar yang melanggar titah Tuhan, Allahku” (Bil. 22:18). Luar biasa!
Tetapi, apa yang terjadi di kemudian hari ia meninggalkan jalan yang benar dan suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat (2Ptr 2:15). Karena itu Yudas memperingatkan mereka yang terpanggil dan dipelihara oleh Yesus Kristus agar menjauhkan diri dari prbuatan yang demikian. Yudas berkata, ”Celakalah mereka,...oleh sebab upah menceburkan diri kedalam kesesatan Bileam....(Yud. 11).
Penyembahan berhala, sihir, perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri dan seterusnya disebut dalam Galatia 5:19. ”Mementingkan diri sendiri” disini mencakup kata tamak. Oang-orang yang seperti ini tdak mendapat bagian dalam kerajaan surga. Karena itu Tuhan Yesus dalam perumpamaan ”Orang kaya yang bodoh” memperingatkan orang-orang yang ada disekelilingnya agar mewaspadai tindakan yang menyimpang ini. Kata-Nya lagi kepada mereka, ”Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ketamakan, sebab walaupum seseorang berlimpah hartanya, hidupnya tidaklah bergantung kepada kekayaannya itu” (Luk. 12:16).
Dalam doa ”Bapa Kami”, Tuhan Yesus mengajar kita supaya berdoa, ”Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:12). Cukup artinya tidak berlebihan tetapi juga tidak kekurangan. Agur bin Yake dari Masa berdoa, Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan kau tolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Ams. 30:7-8). Kata yang dicetak tebal menunjukan bahwa Agur bin Yake memohon agar di jauhkan dari segala bentuk keserakahan. Dia tidak ingin tamak. Baik! Ini juga yang menjadi harapan Tuhan kepada semua orang percaya supaya menjauhi perilaku tamak.


f. Pemberontakan
”Sebab pendurhakaan (rebellion/pemberontakan) adalah sama dengan dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim” (1 Sam. 15:23)
Dalam Alkitab terjemahan baru, 1974 yang dikeluarkan oleh lembaga Alkitab Indonesia, ada spuluh ayat dalam perjanjian lama yang memuat istilah pemberontakan, darai kesepuluh ayat yang ada, delapan ayat berhubungan dengan watak manusia yang suka memberontak kepada TUHAN. Dua diantaranya berhubungan dengan pemerintahan yang ada. Perjanjian baru memuat enam ayat, lima ayat diantaranya berhubungan dengan pemberontakan terhadapa pemerintah, satu ayat brhubungan degan sifat yang terjadi diakhr zaman. Apa itu pemberontakan?

Arti
Pemeberontakan adalah sikap hati yang tidak mau taat kepada otoritas sehigga menimbulakan sikap antipati yang dimanifestsikan melaui perkataan dan pembangkangan.
Pada umumnya para pemimpin pemberontakan adalah mereka yang memilki kecakapan khusus dan skill yang mantap. Mereka bukan orang awam atau bodoh. Mereka berpendidikan. Mereka pintar dan pengetahuannya memadai untuk menjadi leaders.
Belum pernaha saya membaca sebuah pemeberontakan dalam neara manapun dipimpin orang-orang bodoh. Demikian pula kasus tokoh-tokoh pemberontakan yang tertulis dalam Alkitab. Mereka manusia yang hebat, berbakat, kharismanya luar biasa.
Salah satu kasus pemberontakan yang ada adalam Alkitab adalah pemebrontakan yang dilakukan Tiga Serangkai, yaitu Krah bin Yezhar bin Lewi, Datan, dan Abiram, anak-anak Eliab dan On bin Pelet. Alkitab mencatata bahwa ketiganya adalah orang-oang kenamaan identik dengan orang yang berpengaruh, cakap, hebat, dan status sosialnya terpandang. Reputasinya baik, panadai dan cakap berbicara. Tetapi justru dengan kelebihan-kelebihan mereka, mereka jatuh. Mereka memanfaatkan kelemahan Musa sebagai orang yang tidak fasih berbicara (Kel. 4:10). Mereka mengahsut sebagian orang Israel untuk memberontak.
Sudah tentu kaum pemberontak adalah mereka yang memiliki banyak karunia baik dlam dunia sekuler maupun dunia rohani. Perpecahan gereja seringkali dipicu orang berbakat dala menggunakan karunia-karunia rohani. Sayangnya karunia itu disalah fungsikan sehingga mengakibatakan banyak kekacauan.
Kita harus ingat bahwa TUHAN tidak pernah memberkati kaum pemberontak kisah kematian Absalom yang merancanagkan kematian Daud ayahnya, merupakan contoh dari masalah ini. Absalom mati secara mengganaskan. Mayatnya dibuang kedalam lubang besar dihutan dan kematiannya tidak diperhitungkan orang (2 Sam. 18:9-7)

Penyebab
Faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya pemberontakan umumnya disebabkan oleh ketidaktaatan pada ototritas, mereka bisa berjalan sendiri walau tanpa pemimpin, cenderung mengkritik atasan, mencari-cari kelemahan pemimpin, suka mencari dukungan secara tidak fair, merasa diperlakukan tidak adil, sombong seperti Korah, Datan, Abiran dan semua pengikutnya. Mereka dibinasakan TUHAN karena merasa bisa dipakai oleh TUHAN seperti Musa. Bahakan mereka merasa lebih baik, lebih tepat, dan lebi pantas menjadi pemimpin Israel dari pada Musa yang tidak Petah Lidah (Bil. 16:1-50)
Keangkuhan mereka akhirnya menuai bencana yang belum pernaha terjadi semenjak mereka keluar dari Mesir. Baru saja ia (Musa) selesai mengucapkan perkataan itu, terbelahlah tanh di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan segala harta milik mereka. Demikian merka dngan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup kedunia orang mati: dan bumi menutupi mereka sehinga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu (Bil. 16:31-33).
Sebagian orang barangkali menganggap pemberontakan merupakan solusi yang tepat bagi situasi yang membosankan. Kudate-kudeta di beberapa negara yang pernah terjadi merupakan bagian dari sikap tidak mau menunggu dengan sabar kondisi buruk berubah secara alami. Pecahnya gereja-gereja yang sering kita lihat disebabkan oleh ketidapuasan terhadap otorita (gembala sidang).



g. Kemalasan
”Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara si perusak” (Ams. 19:2)

Arti
Malas bisa menunjuk paa seluruh tingkah laku seseorang yang tidak mau maju dalam banyak hal baik secara jasmani maupun rohani. Kemalasan di gambarka seperti benalu yang menempel pada sebuah pohon. Ia menjadi parasit. Kemalasan juga di gamabrakan seperti pintu yang berputar pada engselnya. Orang-orang yang hidupnya hanya bergantung pada orang lain oleh orang jawa disebut mbambung. Sebutan ini berasal dari kata Bambung sejenis serangga yang biasannya merusak tanaman pohon kelapa. Orang yang hidupnya mbambung sering lontang-lantung, kesana kemari tanpa arah yang jelas. Ia malas bekerja hobinya makan dan tidur (Ams. 19:15a). Maunya hidup enak tanpa usaha. Semua keperluannya tercukupi. Orang seperti ini meyebalkan dan hanya menjadi beban. Si pemalas berkata ”Ada singa diluar aku akan dibunuh ditengah jalan” (Ams. 22:13). Berkatalah ”Si pemalas ”Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!” (Ams. 26:13). Dari dua ayat ini, kta mendapati bahwa orang yang malas memiliki banyak alasan untuk melegalkan kemalasannya.

Tanda-tanda Orang Malas




h. Hawa Nafsu Seks

”Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus didalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu...ada tertulis, ”kuduslah kamu, sebab aku kudus”
(1 Ptr. 14:16)

Jika ditelisik lebih jauh, meningkatnya kekerasan seksual, pelanggaran susila seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, inses, zoofilia (berhubungan seks dengan binatang), paedofilia, yang muncul kepermukaan akhir-akhir ini, bersumber dari hawa nafsu seks yang didisfungsikan.
Propaganda-propaganda seksual kini lebih tajam dari pada abad yang lampau. Propaganda-propaganda itu di desain sebegitu rupa dan sangat menggoda. Pemeran utamanya adalah iblis. Dia terus mencoba dengan berbagai trik untuk merusak gambaran seks yang benar yang diciptakan oleh Allah. propaganda-propaganda itu merupakan tanatangan moral yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Sementara nafsu seks tidak hanya dirasakan oleh kaum pria (naluri seks yang timbul karena melihat), tetapi kaum wanita juga.
Sejalan dengan itu di beberapa sekolah di Indonesia sudah ada peraturan yang mengharuskan agar semua murid wanita menggunakan pakian yang menutup tubuhnya mulai dari ujung kepala samapai ujung kaki. Tujuannya, setidaknya adalah mencegah kaum Adam jatuh kedalam dosa seksual. Sesederhana itukah kita bisa menangkal Gelora Seksual yang begitu menggoda? Bukankah mereka juga bisa terjebak dalam gelora nafsu yang membara? Kalau begitu apakah hawa nafsu seks itu? Bagaiman cara menanggulanginya?

Arti
Kamus Bahasa Indonesia, mendefinisikan Hawa nafsu sebagai desakan hati dan keinginan keras (untuk menurutkan hati, dsb). Jika dikaitkan dengan seks, hawa nafsu bisa berarti suatu keinginnan seks yang timbul dari hati yang kuat untuk melakukan aktivitas seksual.
Mengenai nafsu, Fredrick Buechner berpendapat, ”Nafsu seperti monyet yang begeletar di dalam tubuh kita. Kita menjinakakkannya disiang hari, malam harinya ia berkobar dengan liarnya dalam mimpi kita”. Artinya nafsu seks itu memilki kekuatan yang besar dan sanggup menembus batas-batas jasmani kita. Itu ada di dalam diri dan jika itu mencuat sering kita tak berdaya dibuatnya.

HAWA NAFSU DALAM DUA PARADIGMA
1. Paradigma Modern
2. Paradigma Alkitab
MENINGKATNYA HAWA NAFSU SEKS









KESELAMATAN



Agama Islam memahami dosa sebagai kesalahan, sehingga manusia bisa menghindar dari kesalahan atau menebus kesalahan itu dengan tindakan baik (amal dan kesalehan) yang mendatangkan pahala. Keselamatan tergantung apakah pahala kita lebih besar daripada kesalahan dan kejahatan kita.

Gereja RK memandang bahwa sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak rusak sama sekali. Manusia hanya kehilangan gambar Allah yang merupakan anugerah tambahan (yang adi kodrati), sehingga setelah manusia jatuh dosa manusia masih kodrati, yang masih mempunyai akal untuk berpikir, yang masih punya hati untuk merasakan dan menimbang mana yang baik dan mana yang jahat.

Sehingga menurut gereja RK yang menentukan selamat dan tidaknya seseorang adalah Yesus Kristus, yang membawa orang sampai kepada kepercayaan, sisanya manusia harus mencari sendiri, dengan kebaikan dan kesalehannya. Jika masih kurang ia bisa mohon kelebihan pahala dari para orang suci.

Dalam agama Kristen keselamatan semata-mata hanya karena iman dan karena anugerah. Mengapa bukan karena perbuatan manusia? Sebab perbuatan baik manusia adalah perbuatan baik yang sudah tercemar oleh dosa.

Apa arti kata dibenarkan karena iman itu? Iman adalah menyerahkan diri pada Kristus dan usaha yang terus menerus memusatkan perhatiannya kepada Kristus, hal itu merupakan pergumulan terus-menerus sampai akhir hayat kita. Ketika kita lupa mempergunakannya hilanglah iman kita dan bisa hilanglah keselamatan kita.

Lalu di mana tempat perbuatan? Saya setuju dengan gambaran Luther, ia memakai analogi orang yang akan menyeberang laut, ia akan merasa takut kalau ia tidak percaya kepada kapal yang ia tumpangi. Dan jika demikian maka ia tidak akan pernah sampai ke seberang, keselamatan. Iman itu menurut Luther bukan hanya mengakui sesuatu itu sebagai kebenaran, tetapi juga mempergunakan suatu tindakan berdasarkan kepercayaannya itu. Kalau dalam analogi Luther tadi bukan hanya percaya kepada keberadaan perahu, tetapi mau melangkah masuk ke dalamnya, mendayungnya dan mempercayakan diri kepada-Nya.

Apakah ada keselamatan di luar Yesus Kristus?
Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.

William Barclay menafsirkan ayat ini sbb: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan “Akulah kebenaran” itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

Lain halnya dengan Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen Yesus Kristus memang juru selamat, tetapi orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, sebab seperti dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen pun dikenal banyak keselamatan.

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara harafiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: “Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan”.

Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: “…. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka…”

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju moksha, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan?

Ada berbagai penafsiran, di antaranya: ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau ada yang mengatakan ada banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah.

Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6 Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus.

Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme tetapi persoalan tentang “Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” tidak terpecahkan. Dan dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan “Aku adalah… (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup”. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat “Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” harus ditafsirkan?

Konteks ayat ini adalah: Ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-muridnya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada murid-murid juga berada di sana (Yoh.14:3). Kemudian Thomas berkata: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri.

Kemudian Tuhan Yesus menjawab: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah: Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang ke tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. Ay. 3 yang berkata: “Aku akan datang kembali membawa kamu”). Dengan kata lain kalau Thomas bisa datang ke tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana bisa juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedang di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

Apakah pandangan itu tidak memperlemah semangat Pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil.

Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk.4:18,19).

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: “mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan “orang-orang yang diselamatkan” (Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

Apakah pemahaman Pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Dan sering kekristenan mereka yang “bertobat” lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersikap tenggang rasa dan toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerjasama antar agama. Dan kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.


Pdt. DR. Budyanto, Disampaikan pada Program PTJ di GKI Pondok Indah tanggal 25 September 2005

KESELAMATAN YANG KITA PEROLEH MERUPAKAN PENGORBANAN TUHAN YESUS DI KAYU SALIB

LANGKAH 1: PENANGGUNGAN

KRISTUS MENANGGUNG DOSA-DOSA KITA


Langkah pertama dalam penebusan manusia yaitu Yesus Kristus menanggung dosa-dosa dunia dalam tubuhNya di atas kayu salib. Ketika Yesus disalibkan, Allah mengangkat semua dosa-dosa dunia (dahulu, sekarang, dan esok), dan meletakkannya pada Kristus.

"Tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya [Jesus] kejahatan [dosa] kita sekalian."
Yesaya 53:6

"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib."
1 Petrus 2:24

"Dia [Jesus] yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya [Allah Bapa] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." 2 Korintus 5:21

Karena Tuhan harus menghukum dosa, siapakah sekarang yang Tuhan harus hukum?



LANGKAH 2: PENGGANTIAN

KRISTUS MATI UNTUK KITA
Karena Tuhan harus menghukum dosa, Dia melampiaskan murkaNya kepada Yesus untuk kita. Yesus menjadi "pengganti" kita. Dia dihukum untuk dosa-dosa kita dan mati untuk kita.

"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Yesaya 53:5

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring..."Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Matius 27:46


LANGKAH 3: KEPUASAN (PENDAMAIAN)


KEMATIAN KRISTUS MEMBAYAR PENUH DOSA-DOSA KITA, SEHINGGA MEMUASKAN MURKA DAN KEADILAN ALLAH.

Karena Yesus mati menggantikan kita untuk dosa-dosa kita, keadilan Allah sudah terpenuhi. Yesus membayar dengan penuh dosa-dosa manusia, sehingga barangsiapa yang memilih untuk menerima pembayaran itu tidak harus mengalami murka Allah yang kekal yang harus dijatuhkan atas semua manusia yang berdosa. Yesus membayar dengan penuh untuk semua dosa-dosa manusia!
"Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia [Allah Bapa] menyerahkan dirinya [Yesus] sebagai korban penebus salah...ia akan melihat terang dan menjadi puas." Yesaya 53:10-11

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya." Yohanes 19:30

Ungkapan "sudah selesai" sebenarnya adalah pernyataan yang digunakan di Roma pada jaman Kristus ketika suatu hutang dibayar dengan penuh. (Kittel, VIII, hal.57,60) Ketika Yesus menyerukan ungkapan itu sebelum kematianNya, Dia menyatakan bahwa Dia sudah membayar dengan sempurna, tuntas, dan lunas untuk dosa. (Juga lihat Kolose 2:13-14).


JADI, YESUS SUDAH MERUNTUHKAN RINTANGAN ANTARA ALLAH DAN MANUSIA DENGAN MEMBAYAR PENUH UNTUK DOSA-DOSA KITA MELALUI KEMATIANNYA SENDIRI.

Mengapa kematian Yesus begitu berharga sehingga dapat membayar bukan hanya untuk semua dosa-dosa engkau, tetapi juga untuk semua dosa-dosa manusia dari berbagai usia?



KESIMPULAN
Dosa dan Keterhilangan
Akibat dari keterpisahan dari Allah jelas memimpin keberadaan orang berdosa ke dalam status keterhilangan, terhilang dari dukungan dan kehadiran Allah.

Pertama, dosa menyebabkan manusia tidak memenuhi kemuliaan Allah. Konsep Agustinus bahwa dosa sebagai kekurangan, harus lebih dimengerti sebagai akibat dosa dalam manusia daripada penafsiran mengenai dosa itu sendiri. Ketika dosa muncul, kemuliaan Allah langsung meninggalkan manusia. Ini berarti kehilangan hak istimewa manusia sebagai wakil Allah untuk menjadi reflektor kemuliaan-Nya. Kehilangan kemuliaan Allah dari manusia, membuat manusia berada dalam suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Manusia akan hidup tanpa hormat dan kemuliaan, pendidikan akan menolak kebenaran, hak-hak manusia tidak mempunyai kebaikan, pengetahuan tanpa hikmat, pernikahan tanpa kasih, dan ilmu pengetahuan tanpa hati nurani/kesadaran, kebebasan tanpa kontrol. Inilah yang terefleksi dalam kitab Yehezkiel bahwa kemuliaan Allah bergerak secara perlahan-lahan dan meninggalkan Bait Allah. Berarti penghukuman Allah sudah dekat, akhir dunia sudah berada di ambang pintu.

Sejak zaman Renaisance, pandangan dunia yang anthroposentris mengenai manusia alami telah mencoba untuk mengintepretasikan ‘Allah’ dan ‘jiwa’ melalui diri manusia sendiri yang berdosa sebagai titik pusat dari alam semesta. Dengan menjunjung tinggi rasio sebagai alat mutlak untuk untuk menemukan kebenaran dan menganggap natur sebagai tujuan akhir dari hasil yang dicapai untuk memecahkan semua problem manusia. Tapi sejarah menyatakan kesaksian yang jujur mengenai kegagalan manusia. Di bawah segala pencapaian hasil dangkal dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, psikologi, filsafat dan bahkan agama, ada penyebab, yang nyata dan konsisten, dari ketidakseimbangan dan masalah-masalah.

Lingkungan kita padat dengan jiwa-jiwa yang kosong sementara berlimpah materi, penuh kekuatiran akan perang sementara pembicaraan mengenai perdamaian tidak berhenti, penuh dengan ketidakamanan sementara dihasilkan senjata-senjata yang tercanggih. Bertambahnya angka bunuh diri sementara tersedia alat kehidupan yang lebih baik; kehancuran keluarga meningkat sementara kebebasan sex dan percintaan makin meluas. Kita sedang bermimpi dari Renaisance sampai abad 20 mengenai otonomi manusia yang lepas dari campur tangan Allah. Khususnya sejak abad 19, begitu banyak ideologi yang muncul untuk menciptakan suatu optimisme modern yang naif, termasuk theologi liberal, evolusionisme dan komunisme. Semua ini gugur pada perang-perang yang menakutkan dalam abad 20. Demikian juga dengan revolusi internasional, politik, komunisme dan politik nasional, dan filsafat eksistentialisme. Semua mencoba untuk memecahkan persoalan manusia tapi sekarang kita tetap hidup dalam situasi kacau, tanpa tahu ke mana tujuan sejarah ini. Bagi zaman ini masalah intinya adalah mencari identitas manusia. Kita tetap berjuang untuk demokrasi, kebebasan, keadilan, dan hak-hak manusia. Tidakkah ini tetap mengatakan kepada kita bahwa dosa dan keterhilangan adalah fakta yang tidak dapat disangkal kaum Injili di seluruh dunia menegaskan ulang kesungguhan dari fakta dan efek dosa seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Penegasan ini lebih dari sekadar kebutuhan mendesak dalam era post-liberal dan post-modern, secara theologis dan sosia-politis. Dengan pengertian mendalam mengenai kebutuhan orang-orang berdosa akan keselamatan, cinta kasih berapi-api bagi orang berdosa, mari kita dengan setia memberitakan Injil ke dalam dunia yang berdosa.

“Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” “Lihat Anak Domba Allah yang mengangkat dosa seluruh dunia.” Kata-kata pendahuluan yang agung dari Injil tetap berlaku sampai akhir zaman. Mari kita berseru, “Bertobatlah hai umat, koyakkan hatimu, bukan jubahmu!” kepada para pemimpin dan umat di dunia! Tinggikan salib Kristus yang menjadi pengharapan satu-satunya dari umat manusia, agar Roh Kudus mengiluminasikan generasi kita untuk menerima Kristus. Biarlah seluruh makhluk dengan rendah hati mengaku dosa di hadapan Allah, untuk membuka kembali pintu surga dan memohon belas kasihan dan pengampunan dari-Nya, yang akan menyembuhkan dunia yang berdosa.

Yang layak adalah Anak Domba yang telah disembelih! Kemuliaan bagi-Nya untuk selama-lamanya!

RENUNGAN

Berakarlah Dalam Iman
Pada hari-hari yang akan datang, Iblis akan mulai menyerang engkau dalam usahanya untuk meruntuhkan iman kepercayaanmu dalam Kristus. (1 Petrus 5:8, Efesus 6:16, Matius 13:3-23).

Beberapa tujuan-tujuan khusus Iblis adalah:
1.Untuk menanam benih keraguan dan duka demi untuk merampas kesukaan dan keyakinan hidup yang kekal dari padamu.
2.Untuk menyesatkan engkau agar menahan engkau untuk bertumbuh dalam kebenaran, dan
3.Untuk mencegah engkau untuk mengabarkan iman kepercayaanmu kepada orang lain.
Perisai iman: Efesus 6:10-17


1. Karena injil adalah batu penjuru dari iman kekristenan, Iblis akan memulai serangannya dengan mencoba membingungkan engkau tentang kebenaran injil. Untuk bertahan dalam serangan-serangan yang engkau hadapi, engkau harus berakar kuat dalam kebenaran injil. Untuk melakukan hal ini, tetapkanlah sekarang bahwa engkau akan membaca buku kecil ini sehari sekali untuk satu bulan. Jangan berhenti setelah sepuluh atau lima belas hari walaupun engkau sudah menghafalnya! Janganlah membiarkan Iblis mematahkan semangatnmu dengan berkata padamu "tidak ada waktu" atau engkau harus melakukan hal lain yang lebih penting. Ini adalah kebohongan Iblis yang classic. Jangan percaya akan hal itu! (Matius 13:1-9, 19-23; Lukas 10:38-42, 12:16-31, 14:16-20; Efesus 5:16).

2. Jangan mencoba untuk mendapat keyakinan dalam hubungan engkau dengan Kristus atau bertumbuh dalam iman kerohanian melalui "perasaan mistik" atau "suara-suara bisikan" dalam pikiranmu. Apa yang kita "rasakan" dalam hati kita tidak dapat diandalkan sebagai pengarahan kebenaran rohani daripada kebenaran mengenai ilmu hitung atau ilmu bumi. Apakah engkau berani mencoba melewati ratusan mil melalui jalan kecil pada saat berkabut tebal tanpa peta tetapi hanya mengandalkan "perasaan" saja? Tentu tidak! Namun banyak orang dengan bodoh mencoba menyatakan hidup kekristenan mereka demikian rupa.

3. Untuk kita dapat bertumbuh dalam kebenaran rohani, Allah sudah memberikan kita sumber kebenaran yang pasti dan tidak berubah, yaitu Alkitab. Coba baca Alkitab setiap hari. Mulai dengan membaca buku Galatia. Kitab ini adalah pembelaan Rasul Paulus tentang injil dan ajaran kasih karunia. Baca satu pasal setiap hari sampai engkau membaca seluruhnya (6 pasal) lima kali. Ini akan memakan waktu satu bulan. Bulan depannya, baca seluruh pasal dalam satu hari. Ini akan menguatkan engkau dalam ajaran iman kekristenan yang paling dasar dan paling penting, yang akan memberikan dasar yang diperlukan untuk pertumbuhan iman kekristenan yang sejati.
PERASAAN MUNGKIN ADALAH BISIKAN IBLIS.
BANGUN IMANMU DENGAN FIRMAN TUHAN.
Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roma 10:17

4. Setelah engkau berakar kuat dalam pengertianmu tentang injil, carilah gereja yang benar. Untuk melakukan hal ini, tanyalah kepada pendeta itu bagaimana seseorang bisa masuk ke surga. Apabila ia berkata melalui kehidupan yang baik, mentaati sepuluh perintah Allah, permandian, pengakuan dosa, keanggotan dalam gereja, atau jawaban-jawaban yang salah lainnya - - berpalinglah dan carilah gereja lain. Apabila Pastornya saja tidak mengerti tentang injil, dasar dari iman kekristenan, dia tidak tahu apa-apa tentang kekristenan! Mengapa engkau mau pergi ke gereja dimana pendetanya tidak tahu bagaimana untuk masuk ke surga? Carilah gereja yang benar!


BERSYUKUR KEPADA ALLAH SETIAP HARI
Menurut Alkitab, banyak hal-hal yang indah terjadi pada dirimu pada saat engkau mengerti injil dan percaya pada Kristus saja sebagai Juru Selamatmu.

-- Engkau menerima pengampunan atas semua dosa yang pernah engkau lakukan.(Roma 5:11)
-- Engkau menerima hidup yang kekal sebagai hadiah yang cuma-cuma. (Yohanes 5:24, 10:28)
-- Engkau terjamin akan masuk ke surga. (Yohanes 14:1-3)
-- Engkau menjadi anak Allah. (Yohanes 1:12)
-- Engkau mempunyai seorang teman yang mengerti apa yang engkau alami, dan selalu bersedia membantu engkau dalam kesukaraan. (Ibrani 2:18, 4:15-16, Mazmur 68:5)
Dalam Lukas 17:11-19, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, dan sembilan orang pergi tanpa berhenti untuk mengucap syukur kepadaNya! Supaya engkau tidak mengikuti contoh dari sembilan orang kusta yang tidak bersyukur, engkau dapat menunjukkan ucapan syukurmu kepada Allah untuk semua yang telah Allah lakukan bagimu dengan cara hidup yang berkenan padaNya, mentaati perintah2xNya dan berjalan menurut firman Allah. (Lukas 7:40-43, 1 Yohanes 4:19, Yohanes 14:21).

KABARKAN INJIL
Bayangkan pada suatu hari engkau berjalan di pinggiran jalan, dan sebuah piano yang sedang diangkat ke lantai sepuluh, lalu jatuh dan pecah tersebar kemana-mana tanpa pengetahuan engkau. Tiba-tiba seseorang yang engkau tidak kenal, mendorong engkau kesamping untuk menyelamatkan engkau, tetapi ia tertindih oleh piano yang jatuh itu. Waktu ia terbaring akan meninggal, dengan tangan yang bergetar ia mengeluarkan surat dari kantongnya, dan bertanya kepadamu supaya engkau mengambil dan mengantarkan surat itu. Maukah engkau melakukannya?

Yesus, yang mati untuk menyelamatkan engkau, telah meninggalkan surat yang seperti ini untuk engkau. Surat itu namanya Injil. "Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.'" Markus 16:15 (Juga lihat Matius 28:18-20, Kisah Para Rasul 1:8, Roma 10:14-15). Apakah engkau bersedia untuk mengambil surat itu yang telah Yesus tinggalkan bagimu dan melakukan apa yang dikehendakiNya? Apabila ya, bertanyalah pada seorang teman atau kenalanmu: "Pernahkah seseorang menunjukkan Alkitab tentang bagaimana engkau dapat mengetahui dengan pasti bahwa engkau akan masuk ke surga ketika engkau meninggal?" Jika mereka menjawab tidak, bertanyalah, "Bolehkah saya menunjukkannya?" Kebanyakan orang dengan keinginan yang amat besar ingin tahu bagaimana mereka bisa tahu hal ini dengan pasti!
Yesus adalah Jaminan yang Kekal

Jika esok atau bulan depan engkau jatuh dalam dosa, mungkinkah engkau akan kehilangan hadiah kehidupan yang kekal?

Alkitab berkata:

"Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban [yang telah lampau, sekarang, dan yang akan datang] saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah…..Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan."
Ibrani 10:10-12, 14

Menurut Alkitab, dosa engkau yang mana yang sudah dibayar Yesus waktu Dia mati?
Dosamu di masa lampau.

Dosamu di masa lampau dan sekarang.
Semua dosamu selamanya: yang telah lampau, sekarang, dan yang akan datang.
Menurut ayat ini, berapa sering engkau disucikan melalui kematian Yesus Kristus?
Seminggu sekali
Sebulan sekali
Setiap kali engkau mengakui dosamu yang paling akhir dan memohon pengampunan.
Sekali untuk semuanya.

JAMINAN YANG KEKAL: SUATU KESIMPULAN
YANG PENTING TENTANG KEMATIAN TUHAN KITA
Seseorang tidak akan kehilangan hadiah hidup yang kekal karena dosa. Itu adalah satu-satunya sebab Kristus mati…untuk membayar semua dosa-dosamu! Karena Dia mati untuk semua dosa selama-lamanya - yang telah lampau, sekarang dan yang akan datang - Dia dapat membayar sekali dan selama-lamanya untuk menyatakan bahwa engkau tidak bersalah….bukan hanya atas dosamu di masa lampau, tetapi atas semua dosa: yang telah lampau, sekarang dan yang akan datang! Menolak untuk percaya hal ini artinya menolak untuk percaya injil itu sendiri!

Komentar

Postingan Populer